Persib Bandung berpeluang mencetak sejarah baru untuk meraih gelar juara kasta tertinggi sepak bola Indonesia tiga musim beruntun atau hattrick saat menghadapi Persijap Jepara pada laga terakhir BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Sabtu, 23 Mei 2026, pukul 16.00 WIB.
Tim asuhan Bojan Hodak tersebut hanya membutuhkan hasil imbang untuk memastikan trofi juara setelah pada musim sebelumnya berhasil meraih gelar back to back. Pertandingan penentu ini memicu antusiasme tinggi dari para Bobotoh yang memadati Graha Persib untuk berburu jersey dan merchandise menjelang laga di kandang sendiri.
Peluang sejarah ini membawa memori publik Bandung kembali pada kejayaan masa lalu yang dipimpin oleh penyerang legendaris Sutiono Lamso. Pemain asal Purwokerto yang membela Pangeran Biru sejak tahun 1988 hingga pensiun tahun 2000 tersebut mengukir sejarah emas dengan mempersembahkan tiga trofi prestisius, yaitu dua juara Perserikatan musim 1989/1990 dan 1993/1994, serta juara Liga Indonesia edisi pertama musim 1994/1995.
Sutiono mengenang kembali awal perjalanannya yang tidak terduga saat merantau dari Purwokerto pada akhir tahun 1988 untuk bergabung dengan klub internal Persib, Produta. Bakat besarnya langsung menarik perhatian pelatih Nandar Iskandar setelah mencetak beruntun gol pada laga-laga awal kompetisi internal.
“Saya pertama kali datang ke Bandung itu pada 1988 akhir. Kami datang dari Purwekerto. Terus masu klub Produta. Dulu kan anggota Persib tuh. Ada kompetisi internal Persib,” kata Sutiono Lamso.
Naluri mencetak gol yang tinggi membuat Sutiono langsung mendapatkan promosi kilat untuk masuk ke dalam skuad senior Maung Bandung di usia 22 tahun.
“Karena waktu itu, Persib mengambil pemain dari anggotanya. Makanya saya masuk ke Produta. Begitu saya main, sekali main sudah bikin dua gol. Main keduanya bikin gol lagi,” imbuh Sutiono Lamso.
Ketajamannya langsung terbukti pada musim pertama di Perserikatan dengan sumbangan delapan gol, disusul raihan gelar pencetak gol terbanyak di Piala Utama tahun 1992 setelah menembus final melawan Pelita Jaya.
“Nah, di situ kita langsung dipanggil pelatih, waktu itu Pak Nandar Iskandar. Dia minta saya untuk bergabung ke tim senior Persib. Saya juga kaget. Dua kali main langsung dipanggil ke Persib. Antantara percaya enggak percaya,” kenang Sutiono Lamso.
Pemain yang juga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik musim 1993/1994 ini menceritakan bahwa bergabung dengan tim utama merupakan perwujudan mimpi masa kecilnya.
“Persib itu tim idola saya waktu kecil. Saya sempat berpikir,’Benar nih’. Kayak mimpi gitu, kita bisa gabung dengan tim senior. Saya berumur 22 tahun ketika itu.” kata Sutiono Lamso.
Sutiono menjelaskan bahwa kompetisi pada era tersebut sempat terbagi sebelum disatukan menjadi Liga Indonesia profesional.
“Dulu itu, pertama main di Perserikatan. Saya sudah bisa bikin gol banyak, ada delapan. Tapi karena banyak pemain yang golnya sama, jadi akhirnya enggak diadakan,” ujar Sutiono Lamso.
Keberhasilan meraih predikat top skor di Piala Utama memberikan berkah finansial yang cukup besar baginya pada masa itu.
“Nah, baru waktu Perserikatan 1994, eh Piala Utama dulu. Kita dulu, sebelum ada liga, ada Piala Utama. Empat besar Galatama, empat besar Perserikatan. Kita waktu itu masuk final sama Pelita Jaya, tahun 1992”. kata Sutiono Lamso.
Uang hadiah sebesar belasan juta rupiah dari pencapaian tersebut tidak dinikmatinya sendiri, melainkan dibagi bersama rekan-rekan setimnya.
“Dari 1992 ke 1993, saya top skornya. Saingan saya waktu kalau enggak salah Alexander Saununu. Dapat hadiah uang Rp15 juta. Buat saya sebagian, sebagian lagi saya bagi-bagi sama teman-teman,” paparnya Sutiono Lamso.
Puncak kegemilangan Sutiono terjadi pada laga final Liga Indonesia 1994/1995 melawan Petrokimia Putra di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada Minggu, 30 Juli 1995. Di hadapan lautan suporter Bandung yang menguasai tribun, ia mencetak gol tunggal kemenangan pada menit ke-79 yang menjadi tonggak sejarah tersematnya bintang pertama di jersey Persib.
“Sangat spesial sekali. Karena Perserikatan dan Galatama disatukan jadinya Liga Indonesia. Yang pertama itu, ya tahun 1994/1995. Saat kita bikin gol dan kita juara, ya saya sangat antusias sekali ya waktu itu,” kata Sutiono Lamso.
Sutiono mengingat bagaimana fanatisme para suporter yang terus mencarinya bahkan sebelum pertandingan final dimulai.
“Begitu pulang, saya juga diarak. Sebelum datang ke stadion juga saya sudah dicari-cari sama penonton. Mereka billing,’Mana Sutiono, mana Sutiono’. Alhamdulillah, saya bisa bikin gol ya,” imbuh Sutiono Lamso.
Kemenangan tersebut terasa sangat prestisius karena seluruh skuad Persib murni mengandalkan pilar lokal tanpa legiun asing, berbanding terbalik dengan lawan-lawannya.
“Ya, sangat meriah sekali waktu itu. Jadi tonggak sejarah Persib, kita jadi bintang satu. Itu awalnya bintang satu di jersey Persib. Tanpa pemain asing. Pemain lokal semua. Tapi musuhnya pemain asing,” ujar Sutiono Lamso.
Kehadiran puluhan ribu Bobotoh yang membiru di stadion utama Jakarta diakui menjadi motivasi terbesar untuk membongkar pertahanan lawan.
“Banyaklah ya, momen-momen waktu itu. Pokoknya saya sebagai pemain depan, apalagi karena Bobotoh yang sangat besar sekali ya. Mayoritas 90 persen itu, Stadion Gelora Bung Karno sudah dikuasai oleh Persib,” tukas Sutiono Lamso.
Sutiono terus memutar otak untuk menemukan celah di barisan belakang musuh demi memecah kebuntuan di partai puncak.
“Jadi gimana caranya nih saya bisa bikin gol lawan Petrokimia Putra di final. Saya berusaha terus pokoknya mencari kelemahan-kelemahan pemain belakang lawan. Saya berusaha untuk bikin peluang dari awal pertandingan. Bila atas kena, bola bawah masih kena juga. Harus gimana caranya?” kata Sutiono Lamso.
Gol kemenangan akhirnya tercipta memanfaatkan umpan matang dari gelandang Yusuf Bachtiar lewat sebuah kecerdikan taktik saat berhadapan langsung dengan penjaga gawang asing.
“Akhirnya ada momen. Waktu itu ada umpan dari Kang Yusuf di depan gawang, enggak saya shooting. Kalau saya tembak, reflek kipernya bagus. Itu kipernya pemain asing. Kalau saya shooting, pasti kena blok,” kata Sutiono Lamso.
Ia memutuskan melakukan gerak tipu terlebih dahulu untuk mematikan langkah kiper lawan sebelum melepaskan tembakan.
“Makanya, begitu saya pura-pura nembak, saat kipernya mulai gerak, baru saya shooting. Bolanya masuk gawang sangat lambat. Karena kalau langsung saya shooting pasti kena blok karena refleksnya bagus.” kata Sutiono Lamso.
Analisis mendalam terhadap kelemahan penjaga gawang lawan rupanya sudah dipersiapkan sejak pertemuan kedua tim di fase grup.
“Itu dari apa? Dari pengalaman main pertama kan kita sebetulnya pas penyisihan ketemu Petrokimia Putra juga. Soalnya kita satu grup. Kan jadi lebih mengenal. Pas main pertama itu di penyisihan, hasilnya kosong-kosong kalau enggak salah,” tutur Sutiono Lamso.
Pengalaman di babak penyisihan tersebut menjadi modal berharga bagi tim pelatih dan pemain untuk menyusun strategi yang tepat di laga kedua.
“Makanya, pas main keduanya baru kita tahu. Oh ini, caranya seperti ini. Kelemahannya mungkin di sini. Kita coba terus pokoknya.” kata Sutiono Lamso.
Gol dramatis tersebut langsung memicu luapan kegembiraan massal hingga membuat Bobotoh merangsek masuk ke area lapangan sebelum laga usai.
“Waktu saya bikin gol, penonton kayaknya sudah masuk ke dalam lapangan. Saking apa ya, senangnya. Bobotoh itu, sampai wah, saya juga, sudah itu kan diamankan juga karena pertandingan belum selesai. Banyak kuda-kuda kalau enggak salah waktu itu, yang di pinggir lapangan untuk mengamankan penonton. Karena di sentel ban pononton sudah banyak waktu itu,” ujar Sutiono Lamso.
Seusai peluit panjang berbunyi, situasi semakin tidak terkendali karena para suporter berebut mengambil jersey hingga celana yang ia kenakan.
“Begitu pertandingan selesai, saya sudah enggak biasa apa-apa. Semua masuk ke lapangan. Saya diangkat. Kaus saya dibuka, diambil. Celana juga sudah mau diambil. Bahaya kalau celana sampai diambil. Ya sudah, kaus saja enggak apa-apa,” pungkas Sutiono Lamso.
Selain final Liga Indonesia, ketajaman Sutiono juga tercatat dalam sejarah rivalitas panas melawan Persija Jakarta. Pada laga kompetisi yang berlangsung di Stadion Siliwangi tanggal 21 Mei 1995, Sutiono menjadi penentu kemenangan 2-1 lewat gol dramatisnya pada menit ke-89, setelah sebelumnya Persib tertinggal oleh gol Abdul Cholik pada menit ke-16 dan disamakan oleh Kekey Zakaria di menit ke-53.
Menurut penuturan Sutiono, kedigdayaan Persib kala itu bertumpu pada latihan fisik berat di bawah arahan pelatih legendaris Indra Thohir, serta kekompakan skuad lokal yang telah bermain bersama sejak lama.
“Yang jelas, kita kan tanpa pemain asing. Mungkin kalau saya, ada pemain lokal ada pemain asing, masih bisa ngandalkan nih. ‘Ini saya punya pemain asing mungkin bisa ngebantu saya’. Nah, terus, sementara kita kan enggak ada pemain asing. Apa yang harus kita lakukan?” kata Sutiono Lamso.
Kombinasi kebugaran yang prima dan kesolidan tim menjadi kunci utama untuk meredam tim-tim lawan yang bertabur bintang asing dunia.
“Otomatis, kita jelas, kebugaran itu harus kita jaga. Terus, yang kedua, kekompakan. Jadi dengan kekompakan dan kebugaran yang bagus, kita bisa mengatasi tim-tim lawan. Misalnya, ada pemain asing nih. Kita misalnya ketemu sama Pelita Jaya, waktu itu ada Maboang Kessack, Roger Milla. Pemain dunia itu kan,” imbuh Sutiono Lamso.
Faktor mental dan rasa percaya diri yang tinggi membuat para pemain lokal Pangeran Biru tidak pernah gentar menghadapi nama-nama besar sepak bola internasional.
“Di Bandung Raya ada Olinga Atangana, ada Dejan Gluscevic. Itu di kandang kita main lawan Dejan. Tapi, kita ya enggak kalah walaupun Persib pemain lokal semua. Ya itu tadi, karena kita punya daya tahannya kuat ditambah kekompakan,” tandas Sutiono Lamso.
Kombinasi pemain yang tidak banyak berubah sejak kompetisi amatir Perserikatan membuat pengertian antarpemain di lapangan menjadi sangat padu.
“Karena tim ini kan dari era Perserikatan, terus bertahan sampai ke Liga. Jadi kita sudah lama bergabungnya. Satu sama lainnya sudah saling tahu.” kata Sutiono Lamso.
Setelah gantung sepatu, Sutiono sempat mengabdi sebagai Pegawai Negeri Sipil sebelum akhirnya memasuki masa pensiun.
“Saya sekarang sudah pensiun nih. Dulu PNS. Begitu pensiun main bola, kita terus kerja jadi PNS. Nah, sekarang sudah pensiun. Saya kembali lagi ke lapangan, jadi pelatih. Jiwa saya memang di bola,” tutup Sutiono Lamso.
Kini, sang legenda mendedikasikan masa pensiunnya di pinggir lapangan sebagai pelatih untuk mendidik generasi muda sepak bola Indonesia.