Delapan Bulan Pascabanjir, Siswa SD IT Di Annur Pidie Jaya Masih Belajar Menggunakan Tenda

Delapan Bulan Pascabanjir, Siswa SD IT Di Annur Pidie Jaya Masih Belajar Menggunakan Tenda

PIDIE JAYA, Beritabandung.or.id –  Sudah delapan bulan pascabencana banjir bandang melanda Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, ratusan siswa SD IT Annur masih harus menjalani kegiatan proses belajar mengajar dalam kondisi ruang darurat.

Sejumlah siswa bahkan masih belajar di tenda darurat, sementara sebagian lainnya dalam ruko yang disewa melalui bantuan pribadi seorang dermawan. Beberapa ruangan di dalamnya disekat menggunakan tripleks agar bisa difungsikan sebagai kelas sementara.

Pantauan Beritabandung.or.id saat berkunjung ke SD IT Annur pada Senin (3/8/2026) lalu, lokasinya tepat berada di jalan lintas nasional Banda Aceh–Medan, Desa Bunot, Kecamatan Meureudu. Di halaman depan bangunan ruko itu terdapat dua tenda, di sana tampak siswa duduk lesehan mengikuti proses belajar mengajar.

Tidak ada dinding pemisah, tidak ada juga ruang kelas yang benar-benar kedap suara. Namun, keterbatasan itu tidak menyurutkan semangat belajar para siswa. Begitu juga dengan para guru, mereka tetap mengajar seperti biasa.

Kepala SD IT Annur Pidie Jaya, Aida Zuhra, mengatakan proses pembelajaran sejauh ini tetap berlangsung seperti biasa. Namun, kondisi ruang belajar sementara masih jauh dari ideal sehingga memengaruhi kenyamanan dan konsentrasi siswa.

Nobar Bola Gratis : KICKOFFTVid

“Untuk proses kegiatan belajar mengajar memang berjalan seperti biasanya. Cuma, untuk kenyamanan dan keamanan masih kurang karena anak-anak masih belajar di dalam tenda,” katanya saat ditemui Beritabandung.or.id

Aida menjelaskan, di bawah tenda darurat tersebut dua rombongan belajar harus menempati satu ruangan tanpa sekat. Dua guru mengajar secara bersamaan sehingga suara dari masing-masing kelas saling bertabrakan dan membuat proses belajar menjadi kurang kondusif.

Sebagian siswa lainnya belajar di dalam ruko yang disewa sejak awal masa tanggap darurat. Bangunan itu bukan disediakan pemerintah ataupun lembaga kemanusiaan, melainkan hasil bantuan pribadi seorang donatur.

Di dalam ruko tersebut, ruang kelas dibentuk menggunakan sekat-sekat tripleks agar dapat menampung beberapa kelas sekaligus. Fasilitas itu telah digunakan sejak sekolah kembali membuka kegiatan belajar mengajar pascabencana.

Baca juga: Sponsor Baru Hiasi Jersey Persib, Kerja Sama sampai Nanti Di Tahun 2029

Meski telah berbulan-bulan menggunakan ruang belajar sementara, pembangunan sekolah permanen hingga kini belum juga dimulai. Pemerintah disebut telah menyampaikan rencana pembangunan sekolah baru, tetapi realisasinya masih belum terlihat.

Menurut Aida, sekolah mereka akan direlokasi ke kawasan Rungkom yang berada di wilayah pegunungan. Saat ini, pihak sekolah juga masih berupaya membebaskan lahan sebagai lokasi pembangunan sekolah baru.

“Kami berharap pembangunan bisa segera dimulai. Sekarang kami sedang melakukan pembebasan lahan sekitar 500 meter. Kami juga membuka donasi karena kebutuhan dana mencapai sekitar Rp1 miliar. Hingga kini, donasi yang terkumpul baru mencapai lebih dari Rp100 juta, sehingga kebutuhan dana masih sangat besar,” ungkapnya.

Aida melihat, di tengah berbagai keterbatasan itu semangat belajar para siswa justru tidak pernah surut.

Sejak hari pertama sekolah kembali dibuka, tingkat kehadiran siswa hampir selalu penuh. Kegiatan belajar bahkan tetap berlangsung dengan sistem full day school hingga selepas waktu Asar.

“Alhamdulillah, kehadiran anak-anak selalu penuh. Semangat mereka luar biasa tinggi meskipun belajar di tempat yang serba terbatas,” katanya.

guest
0 Komentar
Oldest
Newest Most Voted