Diwarnai kericuhan, mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta tetap berkukuh menuju Bundaran HI. Sampai sekitar pukul 16.50 WIB, Jumat (12/06), pasukan TNI dan polisi masih mengadang demonstran mahasiswa di dekat Stasiun Sudirman, Jakpus.
Beritabandung.or.id – Seperti dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Tri Wahyuni, Silvano Hajid dan Faisal Irfani dari lokasi unjuk rasa, sempat terjadi aksi dorong antara mahasiswa dan pasukan TNI-polisi, sekitar pukul 16.00 WIB.
Proses pengadangan ini sudah berlangsung sekitar satu jam. Lokasinya tidak jauh dari Stasiun Sudirman, Jakpus.
Pasukan TNI dan polisi membentuk semacam barikade berlapis di ruas Jalan Sudirman tersebut.
Perwakilan mahasiswa masih melakukan negosiasi agar dibiarkan menuju Bundaran HI.
Semula sebagian pengunjukrasa diadang polisi di dekat jembatan Semanggi.
Polisi melarang mahasiswa menggelar unjuk rasa di Bundaran HI, karena menurut mereka, itu “bukan tempat penyampaian aspirasi”.
Polisi lalu berupaya mengalihkan demo mahasiswa ke depan gedung DPR atau sekitar patung kuda di Monas. Namun mahasiswa menolaknya.
Salah-seorang pengunjukrasa dalam wawancara dengan wartawan, mengatakan, mereka berkukuh menggelar demo di Bundaran HI, karena “DPR tidak menjalankan fungsinya.”
Mereka juga menolak menggelar di depan Istana Merdeka.
“Ya, sudah kita menggelar di Bundaran HI untuk menyadarkan rakyat bahwa kondisi kita tidak baik-baik saja,” kata Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan.
Laporan-laporan video yang diterima BBC News Indonesia, sekitar pukul 13.00 WIB, sebagian rombongan pengunjukrasa diadang polisi di dekat jembatan Semanggi, Jakpus.





Polisi membenarkan bahwa pihaknya tengah berusaha mengalihkan demo mahasiswa ke dekat Patung Kuda atau Gedung DPR/MPR.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto menganggap Bundaran HI merupakan “tempat perekonomian”.
Nobar Bola Gratis : KICKOFFTVid
“Seputaran Bundaran HI itu bukan merupakan tempat yang untuk menyampaikan aspirasi,” kata Budi, seperti dikutip Detik.com.
Alasannya, lanjutnya, di sekitaran Bundaran HI, “ada kegiatan-kegiatan perekonomian, kegiatan-kegiatan masyarakat lainnya. Sehingga kita sama-sama memaklumi, memahami untuk saling menghormati.”

Tentara mengadang demonstran mahasiswa yang berkukuh menuju ke Bundaran HI
‘Masa sama suara mahasiswa takut?’
Rina, mahasiswa dari UI, mengaku persiapan demo sudah dilakukan selama kurang lebih seminggu terakhir.
Kabar demo dia peroleh dari mulut ke mulut di internal kampus, sebelum akhirnya diumumkan secara resmi oleh BEM UI.
Keikutsertaan Rina didorong kekecewaannya terhadap jalannya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Rina mencontohkan kebijakan makan bergizi gratis yang dianggapnya hanya menguntungkan elite-elite belaka, terbukti dengan kasus korupsi yang menyeret petinggi Badan Gizi Nasional (BGN), termasuk kepalanya sendiri, Dadan Hindayana.

“Sejak awal memang sudah enggak jelas programnya. Terbukti dari kasus keracunan massal, dan terbaru korupsi. Masyarakat minta dihentikan, tapi tidak digubris,” paparnya kepada wartawan BBC News Indonesia, Faisal Irfani.
Sebab program itu dilanjutkan, pengaruhnya kepada ruang fiskal dipandang Zaki, mahasiswa UI lainnya, sangat besar.
Zaki menyebut imbas dari anggaran jumbo MBG, masyarakat kecil terkena konsekuensinya, seperti tekanan ekonomi.
Zaki meminta pemerintah memprioritaskan program-program yang tepat sasaran, yang menyasar secara riil kehidupan orang banyak, alih-alih sekadar menjadi bancakan para pejabat.
“Hentikan MBG dan pakai anggaran untuk yang lebih penting,” paparnya.

Baik Rina dan Zaki merupakan sebagian kecil massa aksi yang turun ke jalan, dimotori oleh BEM UI. Keberadaan mereka dihadang aparat keamanan sebelum masuk ke Bundaran HI, lokasi yang direncanakan sebagai titik demonstrasi.
Pengadangan ini, menurut Akbar, sangat problematik. Mahasiswa hanya ingin menyuarakan kegelisahan mereka, bukan bikin onar.
“Masa sama suara mahasiswa takut? Katanya demonstrasi dijamin konstitusi? Ini enggak terjadi hari ini,” tegasnya.
Dan di tengah blokade oleh aparat keamanan, sejumlah pengemudi ojek online membunyikan motor dan klakson, meminta penutupan jalur ke Bundaran HI dibuka.
Salah seorang pengemudi ojol menyatakan bahwa situasi saat ini sangat memprihatinkan.
“Harga BBM naik, kami makin hidup susah!” teriaknya di hadapan petugas kepolisian.
Dia mendesak aparat tidak sewenang-wenang menutup jalan, menyebut bahwa gaji mereka dibayarkan oleh pajak masyarakat.
“Buka jalannya! Kami cuma mau demo!” tambahnya.

Aksi mahasiswa pada Jumat (12/06), yang digelar di Jakarta dan beberapa kota lainnya, menuntut pemerintah agar menurunkan harga BBM, menghentikan program MBG, hingga desakan agar Presiden Prabowo mengakui ”kesalahan pemerintah”.
Di Jakarta, demonstrasi digerakkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Front Mahasiswa Nasional (FMN), dan Serikat Perempuan Indonesia (Seruni).
Mereka semula berencana menggelar aksi yang bertajuk #MenujuIndonesiaBangkrut di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Ketua FMN, Symphati Dimas, mengatakan kepada BBC News Indonesia, jumlah massa dari kelompok mereka mencapai 700—1.000 orang.
Baca juga: Purbaya Sebut Dampak Kenaikan Harga Pertamax ke Inflasi Minim, Akan Ada yang Pindah ke Pertalite.
Dalam demo kali ini, mereka menyampaikan lima poin tuntutan, yaitu:
- Setop pemborosan APBN
- Turunkan harga kebutuhan pokok dan BBM
- Hentikan program MBG dan Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih
- Hentikan militerisme di ranah sipil
- Meminta Presiden Prabowo berhenti mengelak dan akui kesalahan pemerintah.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan mengajak berbagai elemen masyarakat seperti buruh, guru, pedagang, ibu rumah tangga, dan berbagai kelompok masyarakat lainnya untuk ikut serta dalam aksi mereka.
“Kita rebut keadilan! Karena keadilan tidak datang sendiri. Ia harus dijemput oleh rakyat Indonesia yang besar, bukan pemerintah yang berlagak besar,” ujar Athof, dikutip dari Kompas.com.
Untuk mengawal aksi demo, Polda Metro Jaya mengerahkan 3.651 personelnya, sementara Tentara Nasional Indonesia (TNI) mengerahkan 500 personel.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menegaskan pengerahan pasukan skala besar ini bertujuan untuk menjamin keamanan, baik bagi massa aksi maupun masyarakat umum.
Selain aksi di Bundaran HI, polisi mengatakan ada aksi massa lainnya di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada waktu yang hampir bersamaan.
Aksi itu digelar Perhimpunan Penegak Demokrasi Indonesia.
Pihak kepolisian akan melakukan rekayasa lalu lintas di titik demonstrasi.
Masyarakat diimbau menghindari kawasan sekitar unjuk rasa untuk mengantisipasi kemacetan lalu lintas.

Aksi lainnya di daerah
Sebelum demo mahasiswa pada Jumat, sejumlah mahasiswa di daerah juga sudah menggelar aksinya masing-masing.
Pada Kamis (11/06), gabungan mahasiswa dari Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Parahyangan (Unpar), dan Universitas Komputer Indonesia (Unikom), di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyar Daerah (DPRD) Jawa Barat.
Mereka menyoroti kondisi ekonomi, pengesahan Undang-undang Polri, hingga kenaikan harga BBM Pertamax.
Di Pekanbaru, Riau, ratusan mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) juga menggelar aksi demonstrasi di kantor DPRD Riau di Pekanbaru, pada Kamis (11/06).
Mereka memprotes kinerja Prabowo-Gibran. Salah satu yang disoroti mahasiswa adalah program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Di Makassar, Sulawesi Selatan, sejumlah aktivis mahasiswa berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM, kemarin.
Pendemo yang menamakan diri Gerakan Aktivis Mahasiswa (GAM) juga menyampaikan tuntutan serupa, seperti stabilkan nilai tukar rupiah, tolak kenaikan harga Pertamax, dan cabut Undang-undang Polri yang baru disahkan.
Sejumlah kelompok mahasiswa dan di beberapa daerah dikabarkan akan melanjutkan aksinya hari ini.
Artikel ini akan diperbarui secara berkala.